Alasan untuk investasi bodong berada di bawah kedok perdagangan robot
Alasan untuk investasi bodong berada di bawah kedok perdagangan robot

Alasan untuk investasi bodong berada di bawah kedok perdagangan robot

Informasi-teknologi.com.- Penipuan dengan kedok investasi seperti tidak pernah habis. Pelaku tampaknya memiliki sejuta film untuk terus beraksi. Baru-baru ini menemukan mode investasi baru dengan penipuan dengan kedok perdagangan robot.

Perencana keuangan perencanaan keuangan Oneshildt Mohammad Andoko mengatakan, perdagangan robot bukanlah fenomena yang sama sekali baru. Dia mengaku telah mengamati fenomena ini selama setahun terakhir.

Seperti penipuan investasi secara umum, Andoko mengatakan mode awal menawarkan hasil tinggi dengan cara instan.

“Robot perdagangan adalah mengapa banyak orang tertarik, karena dia menjanjikan laba. Sama seperti investasi tubuh yang dia katakan pada liputan6.com pada hari Sabtu (2/10/2021).

Sementara itu, praktisi investasi dan investasi Desmond Wira mengatakan, penawaran investasi berada di bawah kedok penawaran robot perdagangan karena tidak mau bekerja dan serakah.

“Mencari korban rakus. Mode robot perdagangan baru, tetapi banyak yang tidak tahu. Robot berdagang sebagai kedok,” katanya.

Selain itu, kata Desmond, hasil atau keuntungan yang ditawarkan juga tinggi. “Ini bisa 1 persen per hari, 2 persen, 3 persen, 4 persen, dan 5 persen per hari,” katanya.

Kurangnya literasi investasi di masyarakat digunakan oleh penipu untuk mendapatkan CUL. Andoko mengungkapkan, karakteristik sebagian besar masyarakat Indonesia masih tidak berhati-hati dalam menganalisis produk investasi. Sangat rentan terhadap investasi tubuh.

“Orang-orang yang melakukan ini (penipuan), sebenarnya sudah tahu karakteristik orang Indonesia yang senang bisa memastikan. Dapat yakin dan pengembalian abnormal,” kata Andoko.

Sebagai langkah antisipatif, Andoko mengajukan banding kepada calon investor untuk mempelajari produk investasi sebelum membuat keputusan. Selain itu, perlu untuk mempelajari pasar dan strateginya. Jika perlu, belajar pada pihak yang memiliki pengalaman atau pakar dalam instrumen yang diinginkan.

Kurang penting, periksa legalitasnya. Robot Trading mengacu pada platform kegiatan perdagangan untuk dijual aset seperti mata uang atau forex secara otomatis. Melihat dari jenis produk, peraturan tersebut berada di Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditas (Bappebti).

“Akhirnya, itu membutuhkan tindakan. Tapi rasanya belajar jangan langsung dikembalikan. Belajar secara bertahap dulu,” tambahnya.

Di sisi lain, Andoko menjelaskan bahwa robot perdagangan tidak memiliki transparansi dan tidak memiliki izin regulator ilegal. Sebagai perbandingan, Andoko Mentions Tunggal Investor Identification (SID) untuk investor pasar modal dapat lebih mengakomodasi dalam hal transparansi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *